Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Yang membuat semua manusia begitu bergairah bekerja dan berusaha adalah
cita-cita, harapan, atau kita menyebut dengan visi hidup. Semakin menantang
visi itu, semakin bersungguh-sungguhlah manusia untuk mewujudkannya. Tetapi
selain menantang, visi itu juga harus bertumpu pada prinsip dan hakikat yang
abadi dalam hidup ini. Sebab dengan itu akan memberi dampak yang langgeng
andaikata visi itu terwujud.
Sebagai seorang yang beragama, apa rumusan visi dan obsesi hidup
kita? Saya yakin, kita bersepakat bahwa visi dan obsesi hidup kita adalah hidup
bahagia setelah kehidupan dunia ini sebagaimana firman Allah dalam surat
Al-Qashash : 77 berikut :
“Dan carilah pada apa yang telah diangrahkan Allah kepadamu
kebahagian negeri akhirat.”
Dan diterangkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
Sallam berikut :
“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah
akan memisahkan urusan-Nya darinya, dan menjadikan kefakiran ada di depan
matanya. Allah tidak akan mendatangkan dunia, kecuali apa yang telah dituliskan
kepadanya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka
Allah menyatukan urusan-Nya kepadanya, kekayaan akan diberikan dalam hatinya,
serta dunia akan didatangkan kepadanya.”(HR.
Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Namun demikian, kita perlu memperjelas apa yang dimaksud dengan
visi dan obsesi akhirat sebagaimana disebut dalam ayat dan hadist tadi. Kalau
kita menghimpun semua keterangan dalam ajaran agama, maka kita bisa merumuskan
visi dan obsesi hidup kita sebagaimana yang dijanjikan sebagai berikut :
“Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan
mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-istri yang disucikan serta keridhaan
Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS: Ali Imran : 15)
Seberapa menarikkah visi hidup seperti ini? Bukankah jauh lebih
realistis dan lebih pragmatis mempunyai visi tentang sebuah kehidupan dunia
yang berlimpah materi, kekuasaan, wanita dan popularitas? Nanti dulu. Allah
lebih tahu apa yang paling bisa membahagiakan manusia. Oleh karenanya ketika
menjelaskan tentang dunia, wanita, harta, dan segala sesuatu yang menyertainya,
Allah memfirmankannya dalam bahasa yang seperti ini :
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa
yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga). Katakanlah : “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari
yang demikian itu?”
Tuhan mengetahui persis bahwa dunia dengan segala isinya hanya
memberi manusia kebahagiaan yang bersifat sementara dan oleh karenanya pasti
tidak kekal. Yang kekal dan abadi adalah kehidupan setelah kehidupan dunia ini.
Ia adalah kehidupan akhirat. Sebuah kehidupan dimana kita mendapat perkenan-Nya
untuk memasuki surga-Nya yang penuh nikmat dalam rengkuhan ridha-Nya.
Hanya saja harus disadari bahwa visi dan obsesi akhhirat seperti
itu akan dapat terwujud manakala kita dapat merealisasikan kepatuha kepada-Nya
melalui misi dan peran dalam kategori-kategori berikut :
· Pengabdi
Kita dapat menjadi pengabdi dari syahwat dunia kita. Tetapi, itu
hanya menyuntikkan sedikit energi kehidupan. Akan tetapi, ketika kita selalu berobsesi
menjadi pengabdi Tuhan Yang Menciptakan Kehidupan ini, Yang Maha Sempurna
sifat-sifat-Nya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka hal ini akan memompakan
spirit hidup yang tanpa batas, karena :
- Kita selalu terhubung pada Allah Subhanahu wa ta’ala Yang Maha Hidup dan Yang Maha Kuat.
- Sesuatu yang disediakan oleh-Nya dapat diperoleh manakala kita mencatat/menorehkan akumulasi prestasi amal sholeh yang melampaui jumlah dosa-dosa kita.
- Seluruh aktivitas hidup yang kita lakukan 24 jam selama umur kita, akan bernilai pengabdian jika diniatkan karena-Nya dan mengikuti petunjuk-Nya
Pemberdaya Pribadi
Salah satu bentuk pengabdian diri kita kepada-Nya adalah manakala
kita mampu memahami seluruh potensi yang diberikan-Nya kepada kita sejak lahir,
lalu mengembangkannya, agar kita menjadi pribadi yang berdaya dan berkemampuan
baik hingga kita menjadi pribadi yang mandiri, dan tidak bergantung lagi
sepenuhnya kepada belas kasihan serta jasa baik orang lain.
Kunci pemberdayaan ini ternyata ada pada 3 hal, yakni Iman/keyakinan,
ilmu/skill/keahlian, dan amal/kerja keras.
Artinya kalau kita ingin berdaya maka yang pertama harus ada dalam
diri kita adalah keyakinan bahwa semua yang ada dalam diri kita adalah
keyakinan bahwa semua yang ada dalam hidup ini disediakan oleh-Nya untuk kita,
agar kita dayagunakan di atas jalan kebaikan yang diridhai-Nya. Yang kedua,
kita haruslah bekerja keras untuk menghimpun sebanyak mungkin ilmu, dan
keahlian agar kita dapat menunaikan semua kehendak-kehendak-Nya, maka kita akan
selalu berada dalam keridhaan-Nya.
Pemberdaya Sesama
Lebih dari sekedar kita berdaya, panggilan untuk memberdayakan
sesama akan makin melecut memotivasi kita. Kita dapat memimpikan kehidupan
sosial yang lebih baik, hanya manakala punya perhatian-waktu-tenaga untuk menjadikan
seorang menjadi pribadi-pribadi yang lebih berdaya. Ada begitu banyak pihak
yang harus diberdayakan. Yang pertama : adalah orang-orang yang berada langsung
di bawah tanggung jawab kita, yaitu istri dan anak-anak kita.
“Hai orang-orang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu; Penjaganya Malaikat-Malaikat
yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
(QS. At-Tahrim : 66)
Ibnu Abbas mengomentari ayat ini dengan menyatakan; “ Didiklah
anak-anak kalian dan istri-istri kalian.”
Berikutnya tentu saja adalah orang-orang yang ada di sekitar kita,
karena kita diciptakan oleh-Nya untuk menjadi rahmat bagi sesama.
Pembagi Kebaikan
Obsesi kita menjadi manusia yang selalu dapat berbagi kebaikan
kepada sesama akan memberi dorongan kuat untuk selalu berkarya dan berprestasi
pada diri kita.
Allah Menegaskan :
“Maka berbuat baiklah kepada manusia, sebagaimana Allah telah
berbuat baik kepada kalian.” (QS.Al-Qashas : 77)
“Dan berbuat baiklah terhadap ibu-bapakmu, karib-kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman
sejawat, ibu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS. An-Nisa : 36)
Kita tidak akan merasa puas dengan prestasi yang kita capai
sekarang selama kita selalu berpikir untuk berbagai kebaikan kepada lebih
banyak manusia. Apalagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Pembimbing Kebenaran
“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia,
menyeru mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari yang mungkar.” (QS.
Ali Imran : 110)
Selama kita berpikir menjadi pembimbing kebenaran , maka kita akan
selalu memiliki kegairahan untuk menghimpun sebanyak mungkin kesuksesan. Karena
jika tidak maka berlakulah kaidah bahasa Arab yang menyatakan : faqidus sya’i
laa yu’ti. Artinya “orang yang tidak memiliki apa-apa tidak mungkin dapat
memberi”
Pemimpin Komunitas Muttaqin
Kita tidak hanya berkeinginan mendapatkan anugrah berupa pasangan
hidup dan keturunan yang menyenangkan hati karena kemuliaan kepribadiannya,
tetapi sebagaimana juga yang senantiasa kita minta dalam doa kita, obsesi hidup
kit adalah menjadi pemimpin bagi hamba yang bertakwa.
“Dan orang-orang yang berkata :”Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada
kami pendamping hidup kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami),
dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Furqan : 74)







sip gan.. tulisan yang menarik.. mohon kunjungi balik di http://teropongpelajar.blogspot.co.id/
BalasHapusWow 👍👍👍
BalasHapus